Home » Artikel » Blog » Mengingat Makna Hijrah di Tahun Baru Islam

Mengingat Makna Hijrah di Tahun Baru Islam

Umat Islam setidaknya setahun sekali memperingati momen hijrah Nabi Muhammad SAW saat datangnya tahun baru islam. Peristiwa hijrahnya Rasul dari Makkah ke Madinah merupakan tonggak kejayaan umat islam dan awal terciptanya peradaban manusia yang penuh adab.

Ada banyak sekali hikmah dari perjalanan hijrah ini. Pengorbanan harta, jiwa dan air mata mengantarkan islam ke arah perjuangan yang lebih baik dan kemenangan. Hijrah membawa perubahan total pada umat manusia serta sistem kemasyarakatannya.

Rasulullah SAW menyatakan dalam sabdanya, “Madinah itu seperti tungku (tukang besi) yang bisa membersihkan debu-debu yang kotor dan membuat cemerlang kebaikan-kebaikannya.” (Hr. Bukhari)

Peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW tidaklah terjadi pada bulan Muharram yakni bulan pertama dalam kalender hijriyah, namun terjadi pada bulan shafar dan berakhir di bulan Rabi’ul Awwal. Makna hijrah tidak hanya pada artian meninggalkan saja, tetapi disini mengandung arti yaitu meninggalkan hal yang buruk menuju yang baik.

Diantara hikmah dari peristiwa hijrah yaitu :

1. Pengorbanan Besar di Jalan Allah

Rasulullah SAW meninggalkan kota kelahirannya mekkah menuju kota madinah dengan kesedihan semata-mata untuk perjuangan agama islam.

“Demi Allah, sesungguhnya engkau sebaik-baik bumi Allah dan negeri Allah yang paling Dia cintai. Jikalau bukan lantaran aku dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak keluar.” (HR. Tirmidzi)

2. Hijrah memberi Pelajaran akan Persaudaraan Sejati

Persaudaraan antara Muhajir dan Anshar adalah buah dari perjalanan ini sehingga dapat menjadi contoh persaudaraan sejati. Saling tolong menolong dalam kebaikan, Rela berkorban serta saling melindungi merupakan karakter sejati dari kaum Muhajir dan Anshar.

Ibnul Qayyim menuturkan, “Kemudian Rasulullah saw mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik. Rasulullah mempersaudarakan mereka saat itu ada sembilan puluh orang, separoh dari Muhajirin dan separohnya lagi dari Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka agar saling tolong menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meninggal dunia di samping kerabatnya. 

3. Hijrah Mengajarkan Tawakal dalam Kehidupan

Tawakal adalah jalan menuju kemenangan dan keselamatan. Allah Ta’ala menjelaskan dalam Firman-Nya, “Orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui, (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.” (QS an-Nahl : 41-42)

Ayat ini turun pada saat kaum muslimin di Makkah banyak mendapatkan penganiayaan dari kaum kafir Quraisy. Mereka mendapatkan ujian baik lahir maupun batin. Lahir yakni menghadapi siksaan, kekurangan pangan atau penganiayaan. Sedangkan batin, yaitu cobaan kekuatan akidah karena cemoohan, celaan, dan tantangan-tantangan terhadap siapa mereka akan berlindung, dan apakah Allah dapat melindungi mereka.

Sedangkan pada saat itu, keimanan mereka masih baru, sehingga mudah goyah. Oleh sebab itu, turunlah ayat untuk berhijrah. Sebuah solusi untuk terhindar dari penganiayaan kaum kafir. Hijrah ini sebagai ikhtiar, usaha menghindarkan diri dari kerusakan, penganiayaan. Selanjutnya, hanya dengan bertawakal kepada Allah Ta’ala, memasrahkan diri hanya kepada Allah.

Kepasrahan ini menanamkan kesabaran di dalam diri setiap muslim. Sabar bahwa ini semua adalah ujian. Keadaan ketika dianiaya ini adalah cobaan yang sedang dilalui. Allah pasti akan memberikan ganjaran bagi mereka yang tetap teguh menghadapi ujian itu. Mereka akan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top
%d blogger menyukai ini: